Dinginkan Tensi Jelang Pilpres, Elemen Masyarakat di Bali Gelar Parade Seni Budaya

Parade Seni Budaya dan Bali Bersholawat III di Jembrana (foto : ist)

Beritabalionline.com – Konstentasi Pemilihan Presiden (Pilpres) kurang dari sepekan lagi akan dihelat secara serentak di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat Bali terutama kaum muslim membuat sebuah tajuk acara untuk menularkan virus perdamaian terkait beda pilihan politik di masyarakat.
“Ada kekhawatiran menyangkut Pilpres mendatang di kalangan umat Muslim Bali. Karena itu, sebagai tokoh umat Muslim perlu kiranya melakukan sebuah kegiatan untuk meredam amarah akan berbedanya pilihan Politik,” ucap Tokoh Muslim Jembrana, Habib Salim Bin Bafaqih saat acara “Parade Seni Budaya dan Bali Bersholawat III”, Kamis (11/4/2019) di Jembrana.
Kegiatan tersebut dibuat karena adanya kekhawatiran sebagian kalangan masyarakat terkait pelaksaan Pilpres lantaran perbedaan pilihan politik yang ditengarai dapat menimbulkan perpecahan.
“Kita dalam hidup itu majemuk (bermacam-macam). Makanya, acara ini dibuat supaya bisa akur satu sama lain. Tidak menimbulkan bentrokan, karena kemerdekaan itu harganya mahal. Sehingga, jangan karena berbeda pilihan politik membuat adanya pengancaman maupun pertengkaran sesama anak bangsa,” kata Habib Salim.
Dikatakan, Bali bersholawat dan parade seni budaya dilakukan di Jembrana, karena Jembrana menjadi sebuah contoh keberagaman di Bali. Jembrana lebih majemuk karena terdiri dari kampung Muslim dan Nasrani yang ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu.
“Sebagai generasi penerus memang seharusnya kita merawat Kebhinekaan Tunggal Ika. Dan keberagaman ini, ditularkan ke kaum milenial untuk paham budaya asli dan pengimbangan dengan sholawat, memainkan musik hadra dan pembacaan Al Quran oleh ribuan umat muslim,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Acara Parade Seni Budaya Bali Bershoalwat III, Bima Moka Jatmika menyebut, konsep visi misi acara ini adalah menonjolkan kebudayaan dan keberagaman agama, di mana semua bisa menyatu dalam satu panggung sebagai simbol bentuk perlawanan terhadap radikalisme yang masih mencoba merongrong NKRI.
Dijelaskan, acara kolaborasi ini adalah gagasan dari Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, dengan bersinergi bersama organisasi-organisasi kebangsaan dan keagamaan seperti Jatman PWNU, PCNU JEMBRANA, FPNKRI, WWW, POSPERA, RTM, dan RPBN.
Parade Seni Budaya dan Bali Bersholawat III menampilkan keseniaan Nusantara seperti tari okoan khas Tabanan, jegog khas Jembrana, tari saman khas Aceh, dan penampilan dolpin akustik perwakilan kaum milenial. Selain itu juga ada deklarasi damai dan shoalwat serta pembacaan Al Quran, yang diselenggarakan di Gedung Ir. Soekarno, Jalan Utama Denpasar-Gilimanuk, Jembrana.
“Tujuan utamanya, ada beberapa kelompok ingin menghapus budaya leluhur nusantara, dan ada yang menganggap sholawat ini bid’ah. Karena itu, kami ingin menampilkan satu frame, menunjukkan masyarakat luas, bahwa budaya dan agama tidak bisa dipisahkan. Dan itu adalah bentuk tentang kemanusiaan itu sendiri,” papar Bima Moka. (agw)