Tipu Calon Polisi, Bhayangkari Gadungan Divonis Tiga Tahun

Dengan tangan dibotgol, Niswatun Badriyah (25) berjalan-menuju-ruang-sidang PN Denpasar. (foto : ist)

Beritabalionilne.com – Pengadilan Negeri (PN) Denpasar menjatuhkan vonis tiga tahun kepada Niswatun Badriyah (25), wanita asal Sidoarjo, Jawa Timur karena melakukan penipuan dengan berpura-pura menjadi istri anggota Polri.

Majelis Hakim PN Denpasar pimpinan I Gede Ginarsa dalam amar putusannya menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana penipuan yang dilakukan secara berlanjut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) ke 1.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Niswatun Badriyah dengan pidana penjara selama tiga tahun,” kata Hakim Gede Ginarsa saat membacakan putusan di PN Denpasar, Selasa (11/6/2019).

Atas putusan tersebut terdakwa menyatakan menerima sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cokorda Intan Merlany Dewie, yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama tiga tahun dan enam bulan menyatakan pikir-pikir.

Seperti diketahui, kasus yang menjerat janda beranak satu ini berawal saat terdakwa mendatangi rumah saksi korban, I Ketut Widiantara Udayana (17) sekitar bulan November 2017 silam. Kepada orang tua korban, terdakwa mengaku anggota Bhayangkari (istri polisi) dan sudah beberapa kali meloloskan orang masuk Akpol.

Polisi saat ekspose kasus penipuan oleh Bhayangkari gadungan. (foto : Agung Widodo/Beritabalionline.com)

Karena merasa percaya dengan omongan terdakwa, korban pun meminta kepada terdakwa untuk menjadi anggota polisi. Tidak lama kemudian, terdakwa menghubungi saksi korban ada paket Rp150 juta dan langsung lolos menjadi anggota polisi.

“Singkat cerita korban dan orangtua korban setuju dengan tawaran terdakwa dan langsung menyanggupi biaya yang ditawarkan,” terang Cokorda Intan, jaksa Kejati Denpasar.

Disebut pula, korban memberikan uang kepada terdakwa dengan cara bertahap hingga mencapai Rp639 juta. Bahkan uang yang diberikan oleh korban melebihi dari harga paket yang ditawarkan terdakwa. Akan tetapi apa yang dijanjikan terdakwa kepada korban tidak terbukti.

Sebab saat mengikuti tes polisi, korban sudah gugur di teras awal (tes psikologi). Namun demikian terdakwa tetap menjanjikan korban berangkat pendidikan meski kenyatannya hingga saat ini korban tetap saja tidak berangkat.

“Uang Rp639 juta yang diserahkan oleh korban digunakan untuk keperluan pribadi terdakwa, bukan untuk urusan pendaftaran calon anggota Polri,” tegas jaksa Cokorda Intan. (agw)

Total Page Visits: 10 - Today Page Visits: 1