Tari “Ngandap Kasor” Andalan Jembrana

Sekaa Gong Kebyar Wanita “Istri Pradnya Paramesti” Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Jembrana.(foto: ist)

Beritabalionline.cpm – Penampilan duta seni kabupaten Jembrana tampilkan tari ‘Ngandap Kasor’ sebagai pamungkas berhadapan dengan kabupaten Klungkung dalam parade gong kebyar wanita pada Pesta Kesenian Bali (PKB ke-41) di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, Jumat  (28/6/2019).

Kedua duta seni berpentas dalam satu panggung, tampil secara bergantian untuk mempersembahkan penampilan terbaik kepada penonton yang memenuhi stage.

Dihadiri Bupati Artha didampingi istri Ari Sugianti dan Wakil Bupati I Made Kembang Hartawan didampingi istri Ani Setiawarini, para Asisten serta pimpinan OPD di Jembrana.

Penampilan apik keduanya sudah mulai terlihat sejak awal pementasan. Tahun ini duta Kabupaten Jembrana diwakili oleh Sekaa Gong Kebyar Wanita “Istri Pradnya Paramesti” Desa Gumbrih Kecamatan Pekutatan. Masing-masing duta menampilkan 4 persembahan secara begiliran.

Pementasan pertama diawali kabupaten Jembrana dengan menampilkan tabuh “Kebyar Dang” yang merupakan sebuah perpaduan yang harmonis antara garapan instrumental dengan olah vokal.

Tabuh yang diciptakan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1983 itu memiliki makna kehidupan berbangsa dan bernegara tentang kehidupan masyarakat yang sentosa, bahagia dan damai melalui melodi yang ceria dan lincah serta lirik lagu bertutur girang.

Pada penampilan berikutnya, duta kabupaten Jembrana menampilkan “Tari Baris Tunggal” yang merupakan sebuah jenis tari yang menggambarkan perasaan seorang pahlawan sebelum ia pergi ke medan perang serta mengelu-elukan kejantanan dan menunjukkan kemantapan kepemimpinannya.

Selanjutnya, pada tabuh kreasi, kabupaten Jembrana mempersembahkan tabuh kreasi “Kesir – Kesir”.

Sesuai dengan tema PKB XLI, yaitu “Bayu Premana”, penata (I Nyoman Sutama) mencoba mempersepsikan sifat – sifat angin ke dalam elemen musik yang dituangkan ke dalam media gong kebyar, yang diwujudkan dengan karya gending kreasi.

Pada umumnya sifat – sifat angin ada yang positif dan negatif. Terinspirasi dari sifat angin tersebut, ia mencoba mengaplikasikan sifat angin yang menyejukkan seperti kesir – kesir. Menurutnya, intensitas, kontinyunitas dan kelembutan menjadi bagian yang sangat penting dalam gending tersebut.

Sebagai pamungkas, kabupaten Jembrana menampilkan tari “Ngandap Kasor” yang berarti wilayah/daerah yang kalah. Tari tersebut merupakan garapan dari I Putu Agus Satyawan (penata tari) bersama I Gede Yoga Yasa (penata iringan).

Diceritakan daerah Jembrana Kangin adalah daerah hutan belantara, kemudian datanglah penduduk yang berasal dari Munggu, Prerenan, Tabanan dan Mengwi untuk mencari tempat tinggal baru.

Kehidupan masyarakat begitu harmonis, setelah berselang beberapa tahun masyarakat desa tersebut terkena penyakit “grubug” atau demam berdarah. Dengan adanya musibah tersebut masyarakat memutuskan untuk kembali ke daerahnya masing – masing.

Setelah beberapa tahun, masyarakat ingin kembali ke daerah yang pernah mereka bangun dulu, dengan catatan mengusir wabah nyamuk dengan menggunakan alat tradisional pasepan dan prakpak.

Kemudian wabah berhasil dimusnahkan dan atas keberhasilan itu terciptalah desa yang bernama Gumbrih (desa yang kalah). Berkat penampilan apik kedua duta Jembrana dan Klungkung, sukses membuat decak kagum para penonton dan dipenuhi sorak sorai pendukung masing – masing.(huk)