300 Cakep Lontar Milik Museum Lontar Dukuh Penaban Digitalisasi

Agus Heru Setiawan, Dosen Program Study Photography ISI Surakarta, Solo (Tengah) menerangkan cara melakukan proses digitalisasi Lontar di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban, Karangasem.(foto: ist)

Beritabalionline.com – Sebanyak 300 cakep labih lontar milik Museum Putaka Lontar Dukuh Penaban, Karangasem digitalisir. Itu dilakukan selain wujud pelestarian, juga untuk menyelamatkan karya pustaka milik leluhur Desa Penaban yang sudah berusia lebih dari seratus tahun.

Proses digitalisasi ratusan cakepan lontar tersebut, khusus mendatangkan ahli digital dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Solo dengan pola kerjasama. “Digitalisasi ratusan cakep lontar ini merupakan kerjasama kita dengan pihak ISI Surakarta,” ucap Bendasa Adat Dukuh Penaban, I Nengah Suarya, Rabu (10/7/2019).

Menurutnya, proses digitalisasi itu dilakukan sebagai upaya penyelamatan keberadaan ratusan cakepan lontar milik leluhurnya yang sudah berumur. “Kita tidak saja mendapatkan sentuhan ilmu dari pihak ISI Surakarta, sebagai bentuk kerjasama kita juga diberikan sebuah alat untuk proses digitalisasi nanti. Saat ini baru dalam proses pemotretan dan kedepannya semua fotofoto lontar yang sudah digitalisasi akan kita masukan web,” jelas Suarya.

Semua naskah dan lontar yang ada di Museum Pustaka Lontar, nantinya akan disajikan secara online. Itu dilakukan karena pihak museum berkeinginan mengkemasnya sesuai perkambangan jaman dan akan selalu menjadi daya tarik masyarakat. “Kedepan, semua cakepan lontar bakal diterjemahkan ke alih aksara dan bahasa. Sehingga nantinya bisa diakses lewat online. Kalau tidak bisa membaca lontarnya, maka bisa dibaca bahasanya,”ujarnya.

Suarya menambahkan, lontar yang bakal digitalisasi nantinya yakni lontar yang sudah diregistrasi. Dan saat ini, lontar yang sudah diregistrasi sebanyak 313-315 cakep. ”Lontar ini banyak mengandung ilmu pengetahuan, sehingga harus diselamatkan. Bila lontar ini mengalami rusak, maka kita bisa mencetak yang baru karena sudah ada digitalnya,” jelasnya.

Dia menambahkan, saat ini museum sedang berkonsentrasi pada konten atau isi dari museum. Sedangkan untuk bagunan fisik akan dibangun secara bertahap. Jelas dia, semua kegiatan fisik maupun konten bersumber dari donasi. Karena museum pustaka Lontar Dukuh Penaban adalah museum yang dimiliki oleh desa adat yang dibangun oleh karma Adat Dukuh Penaban. ”Untuk pembanguna fisik akan kita lakukan sambil berjalan,”katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, museum dalam misi sosial telah membentuk klinik lontar. Pembentukan klinik lontar itu, guna membantu masyarakat yang memiliki kesulitan berkaitan dengan lontar. “Sekarang sudah ada 315 cakep lontar yang sudah teregistrasi dan 3.967 naskah yang sudah dalam bentuk huruf latin,” tegasnya.

Sementara itu, Agus Heru Setiawan, Dosen Program Study Photography ISI Surakarta, Solo, menambahkan, dalam proses digitalisasi lontar tersebut, pihaknya lebih mengutamakan edukasi terhadap pengelola Museum Dukuh Penaban. Menurutnya dengan memberikan ilmu tersebut, kedepannya pihak museum lontar akan bisa langsung mengeksekusinya.

“Tentunya sebagai bentuk kerjasama, pendampingan akan terus kita lakukan. Tapi untuk saat ini kita lebih mengedepankan ilmu pengetahuan proses digitalisasi. Kalau ilmunya sudah dikuasai, nanti eksekusi digitalnya jauh lebih mudah,” katanya.Heru Setiawan datang melakukan proses digitalisasi lontar di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban, tidak sendirian. Dia detemani tiga orang rekannya dari jurusan fotografi ISI Surakarta.

Dia juga sangat memuji upaya-upaya Desa Penaban dalam menyelamatkan pustaka lontar yang sudah berusia ratusan tahun ini. “Ini pengalaman pertama saya di Bali, sebelumnya kita sudah pernah melakukan digitalisasi naskah kuno di PustakaSurakarta, Perpusnas dan Arsip Nasional,” pungkas Heru. (rls)