Ahok dan Istri Dapat Gelar Asang Lalung serta Idang Bulan dari Warga Dayak

Ahok di Samarinda saat diundang warga Dayak Kalimantan Timur. (foto :Merdeka.com)

Beritabalionline.com – Basuki Tjahaja Purnama atau kerap disapa Ahok, berkunjung ke Samarinda, Kalimantan Timur. Ahok sempat dicurhati warga soal aktivitas tambang batubara, yang menyerobot tanah warga.

Ahok berada di Samarinda sejak Jumat (12/7/2019), bersama istrinya, Puput Nastiti Devi. Keduanya hadir atas undangan warga Dayak Kalimantan Timur.

Hari ini, Ahok diundang di acara dialog masyarakat Dayak Kalimantan Timur, di Ball Room Hotel Mesra Internasional, di Jalan Pahlawan. Dia mendapat sambutan luar biasa. Tidak hanya memanfaatkan momen foto bersama Ahok, namun Ahok juga mendapat curhat warga Dayak.

Di acara dialog itu, Ahok menjawab pertanyaan warga, soal penyerobotan lahan untuk kegiatan tambang batubara, meski itu ilegal. Ahok memberi gambaran umum menjawab pertanyaan itu.

“Kenapa rakyat marah soal tambang, soal pertanian, dan segala macam? Karena pemimpin itu, nambang liar. Ya rakyat marah. Kenapa kamu boleh, saya nggak boleh?” kata Ahok, di hadapan warga Dayak Kalimantam Timur, Sabtu (13/7/2019).

“Kenapa kamu oknum aparat boleh, saya tidak boleh? Saya marah saya. Ya, rakyat marah. Begitu ada kesempatan, meledak. Karena kita tidak kasih contoh yang baik,” ujar Ahok.

Sewaktu memimpin Jakarta, Ahok memastikan dia tidak punya satupun usaha bisnis di Jakarta. “Jadi, ketika ketemu rakyat, kenapa saya berani buka pintu kantor tiap pagi di Balai Kota, saya tanya anda mau ngomong apa, saya jawab,” tambah Ahok.

“Misal, ada orang datang ke saya ngomong soal masalah lahan ini dan itu, terus saya jawab saya pelajari ya, itu mah ngeles. Karena saya takut ketika bilang iya, itu tanahnya Bapak A teman saya. Jadi saya tidak berani sembarangan jawab, karena itu tanah atasan saya. Bagi saya, jabatan itu tidak penting, kebenaran lebih penting. Jangan pernah uang mengontrol hidup kita,” tegas Ahok.

Dalam kesempatan itu juga, Ahok mendapatkan gelar kehormatan ‘Asang Lalung’, dari warga Dayak Kalimantan Timur. Asang bermakna tokoh muda, teguh, perkasa dan berani. Sedangkan Lalung, memiliki arti pengayoman, pengabdian serta keikhlasan berjuang bagi masyarakat banyak.

Pun demikian, istri Ahok, Puput Nastiti Devi juga mendapatkan nama Idang Bulan, bermakna cahaya purnama. Dengan begitu Ahok dan Puput, masuk menjadi keluarga besar masyarakat Dayak Kalimantan Timur. (itn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *