Konsultasi dengan Sandoz, Korban Bayar 80.000 Dolar dan Rp7,5 Miliar

Kasus penipuan pelebaran Pelabuhan Benoa di persidangan PN Denpasar. (foto : SAR)

Beritabalionline.com – Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Gede Raka Arimbawa akhirnya menghadirkan Putu Pasek Sandoz Prawirottama, anak mantan Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika sebagai saksi dalam kasus penipuan pelebaran Pelabuhan Benoa dengan terdakwa Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa (17/7/2019).

Sebelumnya, Sandoz disebut-sebut ikut menerima aliran dana dari korban, Sutrisno Lukito Disasatro yang diberikan melalui terdakwa. Dalam kesaksiannya dihadapan majelis hakim pimpinan Ida Ayu Nyoman Adnya Dewi, Sandoz mengakui menerima uang dari terdakwa.

Terungkap pula bahwa, Sandoz menerima uang pemberian terdakwa senilai 80.000 dolar dan Rp7,5 miliar. Hanya saja, menurut Sandoz, uang yang diberikan oleh terdakwa kepadanya dianggap fee alias upah kerja sebagai konsultan dari saksi korban, Sutrisno Lukito Disasatro.

“Sebagai konsultan apa yang Anda sampaikan kepada korban,” tanya Hakim Adnya Dewi yang dijawab memberikan saran dan masukan.

“Realnya saya sampaikan kalau mau mengurus izin buat perusahaan terlebih dahulu,” jawab Sandoz.

“Apakah saran atau masukan saksi didengar dan dilaksanakan oleh korban?” tanya hakim lagi, yang dijawab dilaksanakan.

“Dari mana saksi tahu kalau sarannya dijalankan oleh korban, apa saksi juga tahu ada PT. Bangun Segitiga Mas?” cecar hakim.

“Saya tahu dari Made Jayantara, dan setahu saya waktu Pak Sutrisno konsultasi dengan saya, PT. Bangun Segitiga Mas memang belum ada,” jawab Sandoz.

Hakim kembali menanyakan kepada saksi, apa saran yang diberikan kepada korban setelah PT. BSM berdiri?.

Dijawab oleh saksi Sandoz, “Setelah membuat perusahaan, disarankan untuk membuat surat perkenalan atau audiensi dengan Pemerintah Provinsi ( Pemprov) Bali”.

Saksi Sandoz juga mengatakan pernah mendengar ada audiensi dengan pihak Bappeda Bali.

“Saya tidak ikut dalam audensi itu, dan saya tahu ada audensi dari pak Candra (Candra Wijaya),” ungkap Sandoz yang mengatakan bahwa Candra Wijaya adalah partner dari saksi korban.

Sandoz juga mengakui bahwa terdakwa pernah disomasi oleh saksi korban. Dalam somasi itu, saksi korban meminta kembali uang yang pernah diberikan kepada terdakwa yang belakangan diketahui uang itu juga diberikan kepada saksi.

“Lalu kenapa saksi tidak mengembalikan uang yang diberikan oleh terdakwa,” tanya hakim, yang dijawab saksi tidak mengembalikan karena uang itu dianggap fee atau upahnya sebagai konsultan.

“Saya dimintai untuk mengembalikan uang, tapi saya bilang saya sudah kerja. Dan saya juga tidak tahu ada masalah apa,” terang Sandoz.

Sementara Jaksa Raka Arimbawa menanyakan kepada Sandoz, “Apakah benar terdakwa ini adalah anak angkat dari Made Mangku Pastika?” Yang dijawab Sandoz, tidak benar.

Sandoz dalam kesaksiannya mengaku tidak mengetahui tentang pertemuan antara saksi korban dan juga terdakwa dengan gubernur (Made Mangku Pastika) di rumah gubernur. “Saya tidak pernah tahu ada pertemuan itu,” ujar Sandoz.

Selain itu, dalam kesaksiannya, Sandoz juga banyak menjawab tidak tahu dan lupa. Pun soal pertemuannya dengan korban di Jakarta yang menurut terdakwa ada membahas soal pembagian tugas dalam pengurusan izin tersebut.

Sementara terdakwa usai sidang menjelaskan bahwa ada beberapa kesaksian Sandoz yang tidak lengkap. Salah satunya adalah terkait pertemuan dengan saksi korban di Jakarta. Padahal menurut terdakwa, dalam pertemuan itu dibahas pembagian tugas dalam pengurusan izin tersebut.

Selain itu, dalam pertemuan dengan gubernur di rumah gubernur, terdakwa mengatakan jika saksi Sandoz juga ada bersamanya. “Pertemuan dengan Gubernur itu terjadi setelah saya menyerahkan uang 80.000 dolar kepada Sandoz,” terang terdakwa. (sar)