Retribusi Wisata Kintamani akan Naik

Sejumlah wisatawan sedang menikmati pemandangan Gunung dan Danau Batur .(foto: ist)

Beritabalionline.com – Tarif retribusi wisata Kintamani bakal kembali dinaikkan mulai tahun depan. Kenaikan tarif retribusi dirancanng Pemkab Bangli untuk meningkatkan kualitas pembangunan dan destinasi wisata menjadi lebih baik. Rencana kenaikan tarif retribusi wisata Kintamani itu diungkapkan Bupati Bangli, I Made Gianyar, Kamis (18/7).

Made Gianyar mengatakan, dalam rapat Forkompinda yang digelar di objek wisata Tukad Cepung, Tembuku, beberapa hari lalu, pihaknya sudah menyampaikan rencana kenaikan tarif retribusi wisata Kintamani kepada peserta.

Dalam rapat itu, pihaknya juga menanyakan mengenai tarif retribusi wisata yang kini diberlakukan di objek wisata Tanah Lot, Tabanan, sebagai pembanding. “Waktu itu, ada yang jawab tarif di sana Rp 60 ribu untuk asing dan Rp 20 ribu untuk wisatawan domestik,” ujarnya.

Berpatokan pada tarif yang diberlakukan di Tanah Lot saat ini, Bupati Made Gianyar pun merancang kenaikan tarif retribusi Kintamani dari Rp 30 ribu menjadi Rp 50 ribu per orang. Alasan dirinya menjadikan Tanah Lot sebagai patokan, karena saat kenaikan tarif retribusi wisata Kintamani yang terakhir tahun 2015 lalu, pihaknya melakukan studi komparatif ke Tanah Lot. “Kita dari aspek destinasi dan aspek pengelolaan belum sebaik Tanah Lot. Karena itu, saya rancang kenaikan tarif retribusi Kintamani menjadi Rp 50 ribu,” terangnya.

Terkait rencana kenaikan tarif retrbusi tersebut, Made Gianyar mengaku sudah memerintahkan Plt. Sekretaris Disparbud untuk melakukan kajian termasuk sosialisasi ke pelaku pariwisata, masyarakat, dan travel agent. Sosialisasi utamanya ke travel agent penting dilakukan mulai sekarang agar mereka bisa bersiap menyesuaikan harga yang ditawarkan kepada wisatawan.

Sesuai rencana, kenaikan tarif retribusi wisata Kintamani akan diberlakukan mulai awal 2020. “Nanti akan diatur Perda. Kalau DPRD setuju mulai 1 Januari 2020 bisa naik. Sekarang kan ada waktu untuk sosialisasi ke travel agent. Agar pihak travel agent yang akan memasarkan destinasi kita bisa bersiap melakukan perubahan harga kepada wisatawan mulai 2020,” jelasnya.

Menurut Made Gianyar, kenaikan tarif retribusi wisata Kintamani menjadi Rp 50 ribu merupakan hal wajar dan masuk akal, mengingat objek wisata yang ditawarkan Kintamani luar biasa. Saat ini, objek wisata Penelokan sudah dibenahi dan ditata. Selain itu, Badan Pengelola Pariwisata Kintamani sudah terbentuk. Fasilitas jalan menuju destinasi wisata yang ada di kaldera Batur sudah dilebarkan dan ke depan akan ditata dengan penambahan lampu penerangan jalan.

Untuk melakukan pembenahan dan penatan ke depannya, tentu Pemkab Bangli membutuhkan dana. “Untuk menata itu kan butuh uang. Untuk membangun butuh pendapatan, sehingga kita bisa benahi lebih baik, apabila pendapatan kita naik,” sebut Made Gianyar.

Bupati asal Desa Bunutin, Kintamani ini berharap setelah kenaikan tarif retribusi wisata Kintamani diterapkan, Badan Pengelola Batur Unesco Global Geopark (BUGG) sebagai badan pengelola pariwisata Kintamani bisa terus melakukan pembenahan dan penataan.

Dengan demikian, wisatawan merasa nyaman, betah, dan puas berkunjung ke Kintamani. “Kita harapkan dengan kenaikan retribusi nanti pembangunan lebih bagus, objek wisata lebih tertata, dan sapta pesona dijalankan lebih baik. Jadi, wisatawan puas datang ke Kintamani walaupun membayar lebih mahal,” imbuhnya. (bbo)