Empat Kebudayaan Denpasar Masuk Nominasi WBTB Indonesia

Tim Verifikasi WBTB Indonesia saat meninjau kesenian Tari Legong Binoh di Banjar Binoh, Denpasar Utara. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Setelah pada 2018 lalu sukses ditetapkanya Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kota Denpasar yakni Ngerebong, Bas Merah, Baris Cina dan Baris Wayang sebagai WBTB Indonesia, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kebudayaan kembali mengusulkan empat warisan kebudayaan untuk dapat ditetapkan menjadi WBTB Indonesia tahun 2019.

Adapun keempat kebudayaan tersebut yakni Tradisi Ngaro Banjar Medura Intaran Sanur (adat istiadat dan ritus). Sarana Sate Renteng (kemahiran, adat istiadat dan ritus), Tari Legong Binoh (seni pertunjukan), Tari Janger Kedaton sumerta dan Pegok Sesetan (seni pertunjukan).

Keempat karya budaya ini diusulkan dengan proses cukup panjang yang dimulai dengan penyusunan formulir pencatatan sekitar bulan Desember lalu kemudian penyusunan formulir penetapan dengan kelengkapan pendukung seperti buku kajian akademis dan video dokumenter.

Setelah mengalami dua kali sidang pembahasan oleh Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda Indonesia di Jakarata akhirnya empat karya budaya ini lolos dalam nominasi WBTB yang akan ditetapkan pada sidang penetapan.

Empat karya budaya ini bersama dengan karya budaya dari kabupatan lain di Provinsi Bali yang jumlahnya 16 beserta karya budaya dari seluruh daerah di Indonesia akan di tetapkan pada tanggal 13-16 Agustus 2019 pada sidang penetapan di Jakarta.

Sebelum menginjak pada sidang penetapan tersebut, Tim Ahli WBTB Indonesia melalui tim verifikasi melaksanakan pengecekan karya budaya secara langsung ke lokasi secara random dengan memilih di Bali, yaitu Tari Baris Jangkang (Klungkung), dan Tari Legong Binoh (Denpasar) yang dilaksanakan pada Kamis (8/8) kemarin.

Kadatangan Tim Verifikasi yang dipimpin Prof. Dr. Pudentia MPSS ini diterima Tim Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Camat Denpasar Utara, I Nyoman Lodera, serta seniman dan Panglingsir banjar Binoh Kaja, Desa Ubung Kaja.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Pudentia MPSS mengatakan bahwa verifikasi ini dilaksanakan dengan mengamati secara langsung keberadaan Tari Legong Binoh. Adapun yang menjadi obyek verifikasi meliputi keberadaan maestro, dan pelaku karya budaya, serta faktor yang mempengaruhi kebudayaan tersebut. (tra)