Cerita Getir di Balik Tewasnya SPG Cantik di Tangan Gigolo

Gus Tu si pembunuh SPG yang mengaku berprofesi sebagai gigolo. (foto : ist)

Beritabalionoine.com – Kehidupan ekonomi yang serba sulit terkadang menimbulkan polemik dan menjadikan alasan seseorang memanfaatkannya untuk menghalalkan segala cara guna mendapatkan penghasilan. Salah satunya dengan menjalani bisnis haram sebagai pramunikmat wanita (baca gigolo).

Gigolo dan tante-tante adalah dua hal yang saling terkait seperti ‘suplay and demand’. Munculnya praktek gigolo karena adanya pasar yang membutuhkan, terutama di Kota Metropolitan yang kehidupannya berjalan sangat heterogen — menjadi problematika kehidupan tersendiri yang tanpa disadari akan menyeret seseorang pada hal-hal yang terlarang, dosa bukan lagi menjadi penghalang untuk memenuhi kebutuhan yang ditunjang kemapanan kehidupan.

Sudah jadi rahasia umum lelaki penjaja seksual (gigolo) sangat marak di kota-kota besar di Indonesia, termasuk Bali karena adanya pasar yang membutuhkan baik dari wanita yang masih berstatus lajang maupun sudah berstatus istri yang kesepian.

Di Bali sendiri fenomena gigolo tak terbendung. Para penawar layanan seksual ini umumnya menyasar para wanita yang kondisi jiwanya sedang galau, entah itu akibat himpitan ekonomi, bermasalah dengan keluarga (broken home) ataukah bermasalah dengan pasangan hidup/pacar.

Kamar nomor 8 Penginapan Teduh Ayu 2 di Jalan Keboiwa Utara, Desa Padangsambian Kaja, Denpasar Utara menjadi saksi bisu saat Ni Putu Yuniawati (39) meregang nyawa.

Tragisnya, Yuniawati yang berprofesi sebagai sales promotion girl itu tewas di tangan seorang gigolo bernama Bagus Putu Wijaya alias Gus Tu (33) usai keduanya berhubungan badan. Korban kehilangan nyawanya setelah dicekik oleh pelaku yang belum lama dikenalnya.

Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Ruddi Setiawan saat ekspose kasus di Mapolresta Denpasar, Senin (12/8/2019), menjelaskan, saat dinterogasi pria yang badannya dipenuhi tato ini mengaku kenal dengan korban melalui sebuah media sosial sekitar sebulan lalu.

Selanjutnya beberapa Minggu kemudian atau tepatnya pada 2 Agustus 2019, pelaku mengirim pesan kepada korban jika akan membeli mobil Mitsuhisi Expander.

Kemudian pada 5 Agustus 2019, pelaku kembali menghubungi korban sembari mengatakan akan melakukan pembayaran mobil dengan menggunakan cek senilai Rp10 juta. Keduanya lalu sepakat bertemu di Lapangan Lumintang Denpasar. Saat bertemu, pelaku lalu menyerahkan cek.

“Dalam obrolan korban sempat bertanya pekerjaan pelaku dan dijawab oleh pelaku bahwa ia berprofesi sebagai gigolo,” terang Kapolresta.

Usai berbincang di Lapangan Lumintang Denpasar, dengan mengendarai mobil Suzuki Ertiga warna putih milik korban keduanya menuju BRI Renon untuk mencairkan cek. Setelah dari BRI Renon keduanya melanjutkan makan siang di Tiara Dewata.

Di sana korban kembali bertanya pekerjaan pelaku. Rupanya, perempuan beranak dua dan sudah pisah ranjang dengan suaminya sejak tahun 2017 silam ini, tertarik dan mengatakan mau melakukan hubungan seks dengan pelaku. Korban juga sepakat membayar Rp500 ribu.

“Selesai makan siang dan hendak pergi, korban melihat kaca handphone pelaku pecah. Korban kemudian mengajak pelaku menuju Celluler Word di Jalan Teuku Umar Denpasar. Di sana korban membeli handphone merk VIVO Y91 seharga Rp1,9 juta, dan handphone tersebut diberikan kepada pelaku sebagai hadiah,” tutur Kapolresta.

Dengan menggunakan mobil milik korban, keduanya kemudian menuju Penginapan Teduh Ayu 2 di Jalan Keboiwa Utara, Padangsambian Kaja, Denpasar Utara untuk chek-in. Rupanya meski telah dua kali berhubungan badan, korban tetap mengaku tidak puas.

Dari hasil otopsi ditemukan luka-luka memar di bagian leher tersebar di kiri dan kanan, luka memar pada kelopak bawah dan atas mata kanan dan kiri, luka memar di pipi kiri dan hidung, luka robek di anus, luka robek dan bengkak di alat kelamin korban vagina.

“Pelaku memiting leher korban dari belakang dengan menggunakan tangan kanannya dan mengunci dengan tangan kirinya sekitar 10 menit. Setelah korban lemas dan tidak bergerak, pelaku menaruh tubuh korban di atas tempat tidur dan menutup wajah korban menggunakan handuk,” jelas Kapolresta.

Kepada polisi, pria asal Buleleng ini mengaku tega menghabisi korban karena tersulut emosi. Pasalnya, korban mengatakan pelaku tidak mampu memuaskan dirinya saat berhubungan badan.

“Setelah melakukan hubungan seks, korban mengaku tidak puas dan kembali mengajak pelaku berhubungan badan untuk yang kedua kali. Namun korban tetap mengaku belum puas,” terang Kapolresta.

“Saat pelaku hendak keluar kamar usai berhubungan badan, korban menarik baju dan menampar wajah pelaku sembari berkata rugi saya membelikan kamu HP, saya nggak puas sama kamu,” ujar Kapolresta, menirukan ucapan pelaku.

 

Kabur ke Manado
Usai menghabisi korban, pelaku pergi dengan membawa mobil korban menuju rumah temannya di daerah Sading, Badung. Di sana pelaku lalu menjual mobil korban seharga Rp10 juta tanpa BPKB. Dengan menumpang ojek di seputaran Ubung, pelaku menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai dan terbang ke Manado.

Tiba di Bandara Samratulangi, Manado, Selasa (6/8/2019) sekitar pukul 12.00 WITA, pelaku sempat mampir di toko baju dan mengganti baju yang digunakan membunuh korban. Selanjutnya pelaku menemui istrinya di Watu Line Manado, Sulawesi Utara untuk bersembunyi.

Tim Resmob Polresta Denpasar yang melakukan penyelidikan berhasil mengendus keberadaan pelaku. Tiga hari kemudian, tepatnya pada Kamis (8/8/2019) sekitar pukul 22.00 WITA, pelaku dibekuk Tim Resmob Satreskrim Polresta Denpasar dan Tim Resmob Polda Sulawesi Utara saat berjalan kaki hendak menuju jalan raya tidak jauh dari rumah istrinya.

Tim Resmob Satreskrim Polresta Denpasar dengan dibantu Tim Resmob Polda Sulawesi Utara dikabarkan menangkap pria berinisial BPW (33) yang diduga sebagai pelaku pembunuh korban.

Pelaku ditangkap petugas gabungan di Jalan Trans Ratahan Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara (Sulut) pada Kamis, (8/8/2019) malam sekitar pukul 21.30 WITA. “Pelaku kita tangkap saat bersembunyi di Jalan Raya Watu Line Manado,” ungkap Kapolresta.

“Pelaku dikenakan pasal 338 tentang pembunuhan dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun,” demikian Kapolresta didampingi Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol I Wayan Arta Ariawan. (Agung Widodo)