Bunuh Majikan, Pria Asal Jombang Dituntut 8 Tahun Penjara

Terdakwa Mochamad Chusen di persidangan PN Denpasar. (foto : SAR)

Beritabalionline.com – Mochamad Chusen yang menghabisi nyawa majikannya, Ho Sigit Pramono hanya gara-gara upahnya belum dibayar, pada sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (19/9/2019) dituntut hukuman 8 tahun penjara.

Diketahui, dalam kasus ini, Chusen, pria asal Jombang ini tidak hanya membunuh majikannya, tapi juga menganiaya istri korban, Dian Indah Permatasari hingga mengalami luka-luka.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Diana K Sitepu dalam amar tuntutannya yang dibacakan dihadapan majelis hakim pimpinan IGN. Putra Atmaja menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP.

Tak hanya itu, terdakwa oleh jaksa Kejari Denpasar itu juga terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan istri Ho Sigit Purnomo mengalami luka berat sebagaimana dimaksud pada Pasal 351 ayat (1) KUHP.

“Memohon kepada majelis hakim yang menyidangkan perkara ini untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama delapan tahun,” sebut jaksa dalam surat tuntutannya.

Atas tuntutan itu, terdakwa melalui tim kuasa hukumnya menyatakan akan mengajukan pembelaan secara tertulis pada sidang selanjutnya. “Kami mengajukan pembelaan secara tertulis yang mulia,” ujar kuasa hukum terdakwa.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus yang menyeret terdakwa ini bermula saat terdakwa merasa kesal karena upah kerjanya belum dibayar oleh korban.

Terdakwa, bahkan sudah mendatangi korban di rumahnya di Perumahan Polri Jalan Imam Bonjol Nomor: B6, Denpasar. Tapi tetap saja terdakwa tidak mendapatkan hasil.

Tapi sebaliknya, kkorban yang didatangi terdakwa malah mengancam terdakwa dengan mengatakan.”Jangan macam-macam kamu dengan saya”.

Kecewa, terdakwa pun berencana untuk menghabisi nyawa korban. Untuk memuluskan niatnya terdakwa menyiapkan pisau dan bambu sepanjang 115 senti meter yang ujungnya diruncingkan.

Dengan bekal bambu runcing dan pisau, terdakwa pergi ke rumah korban. Sampai di rumah korban, terdakwa meletakan bambu yang sudah diruncingkan di depan rumah dan mengedor pagar rumah korban.

Tidak lama kemudian korban keluar dan membuka pagar rumah. Saat posisi berhadapan, terdakwa langsung menusuk korban sebanyak dua kali. Pada tusukan kedua, karena mata pisau lepas dari gagangnya, terdakwa keluar dan mengambil bambu yang diletakkan di depan rumah.

Meski bambu itu sudah diruncingkan, tapi bambu itu hanya digunakan untuk memukul kepala korban. Sementara istri korban, Dian Indah Permatasari yang mendengar teriakan korban langsung keluar rumah dan melihat korban sudah bersimbah darah.

Istri korban juga dihajar terdakwa dengan menggunakan bambu. Teriakan istri korban didengar oleh saksi Umar dan Muhamad Iqbal. Saksi Umar awalnya sempat mengamankan terdakwa.

Tapi karena terdakwa mengancam akan melaporkan saksi Umar ke Kodam, saksi Umar pun melepaskan terdakwa. Sementara saksi Iqbal membawa korban dan istrinya ke Rumah Sakit. Kendati telah mendapat perawatan medis, nyawa Ho Sigit Pramono tidak dapat diselamatkan. (sar)