Pemilik dan Pengasuh Bayi Tewas di TPA Divonis Berbeda

Kedua terdakwa usai mendengarkan vonis hakim dalam persidangan di PN Denpasar. (SAR)

Beritabalionline.com – Persidangan kasus tewasnya bayi berinisial ENA di tempat penitipan anak (TPA) Princess House Chirlcare yang menyeret Ni Made Sudiani Putri alias Bu Made (pemilik TPA) dan Listiani alias Tina (pengasuh bayi) yang di gelar di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Rabu (2/10/2019) memasuki babak akhir.

Pasalnya, sidang yang pimpinan Hakim Heriyanti itu sudah masuk pada agenda pembacaan putusan. Majelis hakim dalam amar putusannya menyatakan sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Happy Maulia Ardani dan G.A Surya Yunita terkait perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa.

Yaitu kedua terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam situasi perlakuan salah dan penelantaran yang karena kealpaannya menyebabkan mati.

Perbuatan kedua terdakwa sebagai diatur dan diancam pidana pada Pasal 76b Jo Pasal 77b UU No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak sebagaimana tertuang dalam dakwaan pertama jaksa.

Sebelum menjatuhkan putusan majelis terlebih dahulu membacakan hal hal yang memberatkan dan meringankan. Untuk terdakwa Bu Made, majelis menyebut, hal yang memberatkan adalah terdakwa tidak mengaku bersalah.

Sedangkan hak hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum, sopan selama persidangan dan terdakwa adalah tulang punggung keluarga.

“Oleh karena itu, menghukum terdakwa Made Sudiani Putri alias Bu Made dengan pidana penjara selama tiga tahun,” tegas Hakim Heriyanti dalam putusannya.

Vonis hakim terhadap Bu Made ini sama persis dengan tuntutan jaksa. Sedangkan untuk terdakwa Listiani alias Tina, hakim menyebut tidak ada hal-hal yang memberatkan. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa mengaku bersalah, sopan selama persidangan dan tidak berbelit belit.

“Menghukum terdakwa Listiani alias Tina dengan pidana penjara selama tiga tahun dan enam bulan,” sebut hakim dalam amar putusannya. Putusan terhadap Listiani alias Tina lebih ringan enam bulan dari tuntutan jaksa sebelumnya.

Selain itu, hakim juga mengganjar kedua terdakwa dengan pidana denda masing-masing Rp. 50 juta.”Apa bila tidak dibayar diganti dengan hukuman kurungan selama empat bulan,” pungkas Hakim Heriyanti sambil mengetuk palu tanda sidang usai.

Atas putusan itu, kedua terdakwa melalui tim kuasa hukumnya masing-masing menyatakan pikir-pikir. Begitu pula dengan Jaksa Surya Yunita dan Happy Maulia Ardani juga menyatakan pikir-pikir.

Sepeti diberitakan sebelumnya kasus yang menyeret kedua terdakwa ini bermula pada Kamis, (09/05) sekitar pukul 07.00 WITA, saksi Andika Anggara datang ke TPA menitipkan kedua anaknya berinisial K dan ENA (korban) yang diterima oleh saksi Evi Juni Lastrianti Siregar.

Untuk korban ENA yang berusia 3 bulan diserahkan kepada terdakwa Listiani. Pada pukul 13.00 Wita, terdakwa Bu Made mendatangi tempat tersebut, namun hanya mengecek jalannya operasional, tapi tidak mengecek satu per satu kondisi dan bayi yang dititipkan.

Karena menganggap tidak ada masalah, pada pukul 16.00 WITA terdakwa Bu Made meninggalkan TPA. Berselang beberapa jam kemudian, pada pukul 15.00 WITA, Listiana berusaha menenangkan korban ENA yang menangis dengan membedong dan memberi susu melalui botol dot.

Kemudian Listiana menengkurapkan korban ENA di tangannya sambil ditepuk-tepuk pinggulnya agar sendawa, Pada pukul 16.17 WITA, Listiana menengkurapkan korban di kasur dengan posisi muka ke samping. Listiana kemudian meninggalkan korban dengan kondisi pintu tertutup untuk mengurus bayi yang lain.

Nah, pada pukul 17.50 Wita, korban yang hendak dijemput oleh neneknya, ditengok oleh Listiani. Namun pada saat Listiani membuka lilitan kain bedongnya, korban ENA sudah dalam keadaan lemas. Dalam keadaan panik, Liastiani menggosok minyak ke kaki korban tapi tetap lemas dan tidak terbangun.

Kemudian atas perintah terdakwa Bu Made, korban ENA dilarikan ke RS Bros. Meski sempat mendapat perawatan medis, nyawa korban ENA pun tak bisa tertolong.

Dari hasil visum et prepartum, pada korban ENA ditemukan luka-luka memar akibat kekerasan benda tumpul, tanda-tanda mati lemas, perbendungan pada organ dalam, sembab otak dan paru-paru, dan cairan putih dalam saluran napas dan paru.

Selain itu, sebab kematian adalah terhalangnya jalan napas dan penyakit infeksi paru akut yang mengakibatkan korban sulit bernapas sehingga menimbulkan mati lemas.

Lebih lanjut, masih dalam dakwaan untuk terdakwa Sudiana, bahwa TPA yang dikelola oleh terdakwa melanggar berbagai ketentuan mulai dari diisi oleh karyawan tidak profesional

sebagaimana disyaratkan dalam peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.137/2014 tentang standar Nasional pendidikan anak usia dini, hingga belum mendapat ijin dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar. (sar)