Terbukti Salahgunakan Narkoba, Arsitek Asal Rusia Divonis 10 Bulan

Terdakwa Aleksandr Ganin didampingi penerjemah di persidangan PN Denpasar. (foto : SAR)

Beritabalionline.com – Seorang warga negara  asal Rusia yang berpofesi sebagai arsitek bernama Aleksandr Ganin (29) yang terjerat kasus narkoba, dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar pada  Selasa (15/10/2019) divonis ringan, yaitu hanya 10 bulan penjara.

Vonis tersebut sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cokorda Intan Merlany Dewie yang pada sidang sebelumnya, Kamis (3/10/2019) juga menuntut pria yang diketahui berprofesi sebagai arstitek itu cukup ringan, yakni 15 bulan.

Dalam sidang yang dipimpin majelis hakim Koni Hartanto menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 127 ayat (1) huruf a UU Narkotika.

“Terdakwa tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindak pidana penyalahguna narkotika bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 10 bulan,” tegas Hakim Koni Hartanto dalam putusannya.

Atas tuntutan itu, terdakwa yang didampingi pengacara dari PBH Peradi Denpasar itu langsung mengatakan menerima.”Kami menerimanya putusan ini yang mulia,” ujar terdakwa malalui penterjemahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, terdakwa ditangkap pada 23 April 2019 lalu, di sebuah Guest House yang beralamat di Jalan Semat gang Pucuk Merah, Kuta Utara, Kabupaten Badung.

Dari penangkapan itu, petugas kemudian melakukan penggeledahan terhadap terdakwa dan ditemukan satu paket padatan hasis berwarna cokelat pada celana yang dikenakan terdakwa.

Selain itu juga ditemukan dua botol plastik, satu plastik daun kering didalam bungkusan rokok, satu potongan dan satu gulungan aluminium foil, tiga kertas rokok, tiga bungkus tembakau, dan satu kotak filter rokok, juga di dekat motor terdakwa ditemukan satu plastik serbuk warna abu.

“Dari hasil introgasi pihak kepolisian terhadap Aleksndr Ganin bahwa hasish itu adalah milik terdakwa yang diperolehnya dengan membeli dari seseorang bernama Vladimir seharga Rp750 ribu untuk dipakai sendiri,” ucap jaksa. (sar)