Gunawan Sebut Penah Diperintahkan Sudikerta Mencari Dana Rp14 Miliar untuk Kampanye Pilgub

Suasana persidangan kasus dugaan penipuan yang melibatkan I Ketut Sudikerta di PN Denpasar. (foto : SAR)

Beritabalionline.com – Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali dibawah komando Eddy Artha Wijaya, Selasa (29/10/2019) menghadirkan dua orang saksi dalam kasus dugaan penipuan, penggelapan, pemalsuan dan tindak pidana pencucian uang yang menjerat mantan Wakil Gubernur (Wagub) Bali I Ketut Sudikerta sebagai terdakwa.

Dua saksi yang dihadirkan adalah Gunawan Priambodo dan Notaris Sujarni. Kesaksian Gunawan Priambodo yang merupakan terpidana 2,5 tahun dan 8 bulan kasus tindak pidana penipuan di muka sidang pimpinan Hakim Esthar Oktavi membuat Sudikerta mati kutu.

Diawal kesaksian, Gunawan yang pada saat kejadian menjabat sebagai Direktur Utama PT. Pecatu Bangun Gemilang (PBG) secara terang-terangan menyebut Sudikerta mempunyai andil besar atas aliran dana dari Ali Markus, bos PT. Maspion Group.

“Awalnya saya disuruh Pak Sudikerta menarik uang sebesar Rp1,9 miliar untuk pembayaran pajak di notaris I Ketut Nelly. Penarikan selanjutnya saya tidak mengetahui karena semua sudah diambil Pak Sudikerta,” bebernya di persidangan.

Gunawan menceritakan, pada bulan Agustus 2013 digelar pertemuan antara Sudikerta dengan Alim Markus di Surabaya. Di sana kemudian dibuat kesepakatan mendirikan PT Marindo Gemilang sebagai pengelola vila maupun hotel yang rencananya akan dibangun di tanah yang diklaim milik Sudikerta.

Dalam pertemuan juga disepakati, di mana kepemilikan saham Alim Markus (PT Marindo Investama) sebesar 55  persen atau senilai Rp149 miliar, sementara PT Pecatu Bangun Gemilang sebesar 45 persen atau senilai Rp122 miliar.

Dijelaskannya, pada tanggal 20 Desember 2013, Gunawan mengaku diperintahkan Sudikerta ke bank BCA Kuta untuk mengaktifkan kembali rekening tabungan. Rekening tersebut kemudian digunakan untuk menampung dana dari Ali Markus.

Diterangkan pula, dana dari Ali Markus yang masuk ke rekening PT. PBG juga mengalir ke kepala BPN Badung saat itu, Tri Nugraha, Wayan Sentosa, notaris Nelly dan beberapa nama lainnya. “Saya tahu dari print out bank,” aku Gunawan.

Menariknya lagi, Gunawan Mengungkap bahwa Sudikerta juga pernah meminta kepadanya untuk mencarikan dana Rp14 miliar yang digunakan untuk  kepentingan kampanye Pilgub Bali. “Semua transaksi keuangan atas sepengetahuan pak Sudikerta,” ucap saksi Priambodo.

Yang terakhir, Gunawan membenarkan jika sertifikat yang diagunkan Ali Markus ke Bank Panin adalah sertifikat baru atas nama PT Marindo Gemilang.

Kendati begitu, pihak Ali Markus tetap tidak bisa menguasai lahan hingga berakibat mangkraknya proyek hotel dan resort bintang lima di pantai Balangan tersebut.

“Salah satu hambatan kenapa tidak bisa membangun di atas lahan tersebut karena Pak Wakil (terdakwa Wayan Wakil) tidak mau menyerahkan tanahnya karena pembayarannya belum lunas,” imbuh saksi.

Sebelum menghadirkan Gunawan Priambodo, JPU menghadirkan Notaris Sudjarmi. Namun tidak banyak keterangan yang diberikan karena saksi mengaku tidak ikut terlibat dalam transaksi tersebut. Diketahui, dalam kasus ini Sudikerta tidak sendiri. Dia bersama I Wayan Wakil dan Anak Agung Ngurah Agung juga menjadi terdakwa. (sar)