Tertembak saat Buru Kelompok Santoso di Sulteng, Aipda Andrew Kehilangan Kaki Kanan

Aipda Andrew Maha Putra, S.H menunjukkan kaki kanannya yang diamputasi akibat terkena tembakan. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Anggota Polri Aipda Andrew Maha Putra, S.H, mengalami peristiwa mengenaskan saat bertugas di Satuan Brimob Polda Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kaki kanannya harus diamputasi setelah terkena tembakan ketika memburu kelompok Santoso di perbukitan wilayah Salogose, Sausu, Sulteng pada 31 Desember 2018 silam.

“Saya tertembak di punggung dan kaki. Waktu itu saya tugas di Intelmob Satgas Operasi Tinombala,” ucapnya saat ditemui di Mapolda Bali, Senin (18/11/2019).

Aipda Andrew yang saat ini bertugas di Poliklinik Biddokkes Polda Bali menceritakan, peristiwa penembakan berawal dari informasi masyarakat yang melaporkan adanya penemuan kepala manusia tanpa badan, Minggu (30/12/2018) sekitar pukul 14.00 WITA.

Informasi tersebut kemudian dilaporkan ke Kasat Brimob Polda Sulteng, Kombes Pol. Susnadi, S.I.K.

“Saat itu Kasat Brimob memerintahkan kepada kami untuk memastikan kebenaran informasi tersebut,” terang anak pertama dari pasangan Alm. Kompol (Purn) I Gede Ngurah Sugandhi, S.H., dan Mince Lembang ini.

Sesuai perintah Kasat Brimob, sekitar pukul 19.30 WITA, satu regu berjumlah 10 orang berangkat naik ke perbukitan mengecek lokasi penemuan kepala dan melakukan penyisiran untuk mencari badan orang tersebut.

Pencarian yang dilakukan sampai larut malam akhirnya membuahkan hasil. Badan korban ditemukan di pinggir sungai tidak jauh dari lokasi penemuan kepala.

Selanjutnya, Senin (31/12/2018) sekitar pukul 07.00 WITA, tim turun kembali membawa mayat korban dengan menggunakan kendaraan. Saat kembali, Aipda Andrew selaku Komandan Regu (Danru) ditemani Bripda Baso berangkat lebih awal mengecek situasi mengendarai sepeda motor.

“Saat mengecek situasi itu, ditemukan ada kayu melintang di jalan. Saya bersama Bripda Baso menyingkirkan kayu tersebut agar tim yang membawa mayat bisa lewat. Baru mau melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ada 4 kali suara tembakan dari arah perbukitan,” bebernya.

Penembakan yang terjadi sekitar pukul 08.00 WITA itu mengenai bagian punggung atas kiri Aipda Andrew. Meskipun darah mengalir ditubuhnya, ia masih sempat melakukan perlawanan. Bersamaan, Bripda Baso juga terkena tembakan.

Melihat anak buahnya tertembak, Aipda Andrew berusaha memberikan pertolongan untuk menyelamatkannya.

“Nah saat memberikan pertolongan tersebut betis kaki kanan saya kena tembak. Berselang 30 menit, 8 orang anggota yang membawa mayat tiba dan langsung memberikan bantuan. Saat itu juga tidak ada suara tembakan dari perbukitan,” jelasnya.

Aipda Andrew dan Bripda Baso langsung dievakuasi ke mobil patroli. Sempat dibawa ke Puskesmas Sausu, tetapi karena kondisi luka yang cukup parah keduanya akhirnya dibawa ke RS Bhayangkara Palu yang ditempuh selama 9 jam.

Tiba di RS Bhayangkara Palu, Aipda Andrew langsung mendapat penanganan medis oleh dokter dan sempat dirawat selama 5 hari di ICU. Namun karena kondisinya semakin memburuk, ia meminta untuk dirujuk ke RS Sanglah Denpasar.

“Kenapa saya meminta dirujuk ke RS Sanglah, karena bayangan saya waktu itu pasti akan mati. Kalau mati di RS Sanglah, setidaknya saya tidak menyusahkan keluarga. Syukur saya bisa melewati cobaan tersebut,” ungkapnya.

Dokter di RS Sanglah menilai bahwa luka tembak di kaki Aipda Andrew sudah infeksi. Apabila tidak diamputasi akan menyebabkan kematian karena sudah tidak ada aliran darah ke kaki bagian bawah.

“Saya langsung shock dan sedih mendengar penjelasan dokter. Saat itu juga saya bersama keluarga memutuskan dan menyetujui dilakukan operasi amputasi di atas lutut tanggal 17 Januari 2019. Saya sudah dioperasi sebanyak 8 kali untuk mengangkat serpihan peluru,” tuturnya.

Semangat hidup Aipda Andrew datang dari istrinya bernama Ni Luh Maharini dan ketiga anaknya, Putu Ayu Rania Putri (5), Made Ngurah Satya Putra (3) dan Ngurah Arya Wiguna 7 bulan.

Anggota Brimob lulusan Diktukba Polri Gelombang I tahun 2005 ini tetap semangat melaksanakan tugas meskipun menggunakan kaki palsu.

“Saya berjalan harus pelan-pelan. Akibat kaki dipotong di atas lutut maka saya jalan harus menggunakan pinggul,” beber pria asal Desa Banyuning, Singaraja ini.

Ia mengaku bahwa kaki palsu yang digunakannya sangat tidak nyaman sehingga sering merasa nyeri. Rasa nyeri itu dirasakan setiap hari sehingga mengganggu waktu tidurnya.

“Saya berharap rasa sakit ini segera hilang. Saya juga mohon dukungan dan perhatian dari pimpinan agar lebih semangat melaksanakan tugas sehari-hari. Saya menjadi tulang punggung di keluarga, istri juga belum bekerja sejak saya pindah ke Bali,” ucapnya.

Sebelumnya, Aipda Andrew mengikuti pendidikan di Watukosek Jawa Timur. Setelah pendidikan ia bertugas di Resimen Brimob Klapa Dua, Depok, Jawab Barat.

Kemudian pada April 2006, Aipda Andrew pindah tugas menjadi anggota organik Sat Brimob Polda Sulteng dan ikut Operasi Tinombala. Di sanalah peristiwa penembakan itu ia alami. (agw)