Warga Sampalan, Nusa Penida Gelar Ritual ‘Ngadegang’, Hadirkan Dalang Cenk Blonk

Prosesi Ritual Melasti Ida Bhatara Alit, Krama Banjar Sampalan, Nusa Penida. (foto : Beritabalionline.com)

Beritabalionline.com – Krama (warga) Banjar Sampalan, Desa Adat Dalem Setra Batununggul, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, menggelar ritrual ‘Ngadegang’ Ida Bhatara Sesuhunan yang berstana di Pura Gunung Hyang, mulai 15-26 Januari 2020.

Bertempat di areal Banjar Sampalan, ritual yang rutin digelar setiap tahun itu diawali dengan ‘Mundut Ida Bhatara Alit’ yang dirangkaikan dengan upacara Melasti ke Segara Sampalan, pada Rabu (15/1/2020).

Dalam prosesi ritual Melasti itu, Krama Banjar Sampalan ngiring Ida Bhatara Sehuhunan yang disimbolkan dalam wujud Barong Bangkal, Rangda, Dengen dan lain-lain yang disungsung serta disucikan oleh warga banjar setempat.
Pada malam harinya, ritual Ngadengang diisi dengan acara Renungan Malam berupa siraman rokhani dari I Wayan Nardayana yang lebih populer dengan sebutan Dalang Inovatif Cenk Blonk.

Sarjana Pedalangan jebolan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar itu, berhasil memukau perhatian warga Banjar Sampalan yang mendengarkan pesan-pesannya yang sarat dengan nilai-nilai moral dan ketuhanan.

I Wayan Nardayana yang populer dengan sebutan Dalang Cenk Blonk saat memberikan Dharma Wacana di hadapan Krama Banjar Sampalan. (foto : Beritabalionline.com)

Kelian Banjar Sampalan, I Dewa Made Suarjana yang ditemui pada hari kedua pelaksanaan ritual Ngadengang di Banjar Sampalan, Kamis (16/1/2020), mengatakan, upacara Ngadengang digelar sebagai makna untuk mengingatkan umat, khususnya krama Banjar Sampalan agar tetap eling dan menjaga keharmonisan alam antara Bhuana Alit dan Bhuana Agung.

Selain itu, ritual yang akan dilaksanakan selama 11 hari itu juga dimaksudkan untuk melakukan doa kehadapan Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka ‘Meyasa Kerti’, ngertiang jagad (menjaga keseimbangan bumi) agar tetap seimbang dan teratur. Dengan cara menghaturkan berbagai upakara yang berisikan seluruh unsur bumi.

“Kita melaksanakan yadnya ini untuk Meyasa Kerti, Ngertiang Jagad agar bisa seimbang dan teratur sesuai dengan keinginan kita bersama,” jelas Dewa Suarjana.

Sementara itu salah satu Jero Mangku Banjar Sampalan, I Dewa Gede Sipta mengatakan bahwa kegiatan ritual yang dilaksanakan secara rutin setahun sekali ini merupakan aktivitas warga untuk menanam keseimbangan dan karma baik lewat perbuatan dan pikiran yang suci melalui doa.

“Kesimpulannya, ritual ini dilaksanakan bertujuan untuk menanam kerti, dan menanam karma baik, dengan berbuat, berpikir yang disertai doa untuk kesejahteraan dunia dan keseimbangan alam secara universal,” tandas Dewa Sipta, sarjana agama jebolan Institut Hindu Dharma (IHD) Denpasar ini. *tra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *